teknik pertolongan pertama

Pelatihan Bantuan Hidup Dasar

Pelatihan Bantuan Hidup Dasar

Desawisatangorooro.com, Pada daerah wisa yang masih asri, tidak jarang lokasinya sedikit susah dilalui. Biasanya jalannya masih terjal, berlicin, bertangga-tangga terjal, sehingga sedikit susah dilalui pejalan kaki. Justru lokasi yang susah seperti itu disenangi oleh para wisatawan. Tidak jarang jalanan yang susah dilalui pejalan kaki itu justru memicu badan bekerja lebih sehingga memicu riwayat penyakit atau faktor risiko penyakit lainnya seperti halnya serangan jantung. Pingsan juga sering terjadi pada lokasi wisata yang masih asri karena kelelahan saat berjalan. Masalahnya orang tidak sadarkan diri atau pingsan ini kemungkinan penyebabnya bisa bermacam-macam. Bisa saja serangan jantung. Paling penting yang dilakukan saat seperti itu bukanlah menentukan penyebabnya, tetapi melakukan pertolongan pertama yang sesuai aturan medis.

teknik pertolongan pertama

Selain keadaan pingsan, kejadian tenggelam di lokasi wisata berair juga sering terjadi. Perlu pertolongan yang cepat agar tidak terjadi hal yang diinginkan. Apabila di tempat lokasi wisata sudah ada pengurus wisata yang bisa melakukan pertolongan pertama, pasti akan meningkatkan kepercayaan wisatawan terhadap keamanan di suatu lokasi wisata.

Hadirnya Tim Mahasiswa KKN Memberikan Pelatihan

Sering kali orang awam saat menemukan pasien pingsan hanya diberikan bau-bau minyak kayu putih saja. Padahal apabila pingsannya ternyata henti jantung tentu harus segera dilakukan resusitasi jantung paru. Pada bulan Maret 2022 hadir tim mahasiswa KKN UGM yang kebetulan dari pendidikan dokter tingkat akhir semua. Jumlah mahasiswa KKN ada 6 orang untuk dusun Tawang. Mereka membawa tugas untuk meningkatkan wisata Desa Ngoro-Oro juga. Karena ada keluhan dari tim pokdarwis dan desa wisata terkait penanganan pertama pasien pingsan, akhirnya tim mahasiswa KKN melakukan pelatihan secara langsung Hands On kepada peserta pelatihan. Kegiatan dilaksanakan pada tanggal 27 Maret 2022.

Bantuan Hidup Dasar

Pelatihan Bantuan Hidup Dasar adalah perawatan medis yang diberikan kepada korban yang memiliki keadaan atau cedera yang mengancam nyawa sebelum korban mendapatkan perawatan komprehensif di rumah sakit. Biasanya dilakukan pada korban yang mengalami henti jantung dan membutuhkan resusitasi jantung paru (RJP).

Berikut Tatacara Bantuan Hidup Dasar

  1. Perkenalan
  2. Perkenalkan diri, dan maksud tujuan melakukan tindakan
  3. Dengan cara perkenalan dan persetujuan tindakan ke orang sekitar secara singkat
  4. Amankan Diri (Safety)
  5. Pastikan bahwa penolong dan korban dalam kondisi aman
  6. Posisikan penolong di sisi kanan korban
  7. Penggunaan alat pelindung
  8. Cek Respon
  9. Cek respon kesadaran korban, bisa dengan cara ditepuk bahunya dengan agak keras sambil bertanya dengan nada agak kera “Pak, apakah Bapak mendengar suara saya?”
  10. Minta Pertolongan (Shout For Help)
  11. “Mas yang memakai baju biru tolong hubungi rumah sakit dengan nomor 0274- 587333. Minta ambulans disertai AED. Ada seorang pria usia sekitar 30 tahun diduga mengalami henti jantung”
  12. Cek Nadi
  13. Cek denyut nadi arteri karotis, dengan menggunakan dua jari raba bagian leher bagian samping
  14. Kompresi (Compression)
  15. Kecepatan kompresi 100-120x/menit
  16. Minimalkan interupsi Kedalaman 5-6 cm
  17.  Pastikan chest recoil Sebaiknya posisikan tangan yang dominan di atas tangan yang tidak dominan, kedua tangan saling mengunci
  18. Titik kompresi pada tulang dada setinggi kedua puting pada laki-laki atau 1/3 bagian bawah tulang dada
  19. Posisikan tubuh penolong tegak lurus terhadap dada korban dengan lengan lurus dan memanfaatkan berat tubuh penolong sebagai tenaga agar tidak cepat lelah
  20. Jalan napas (airway)
  21. Bisa dilakukan metode chin lift. Angkat dagu ke atas saat posisi tiduran
  22. Napas Buatan (Breathing)
  23. Beri napas bantuan 2x setelah 30x kompresi.
  24. Setiap 1x napas bantuan diberikan selama 1 detik dengan menutup lubang hidung korban dan memperhatikan pengembangan dada
  25. Lakukan 5 siklus
  26. Lakukan sampai 5 siklus (30:2) (setiap siklus: 30x kompresi dan 2x napas bantuan)
  27. Periksa kembali nadi korban: Jika ada nadi, lakukan posisi pemulihan Jika tidak ada, lanjutkan CPR 5 siklus.
  28. Pasang AED
  29. Apabila alat AED sudah datang segerang pasang. Posisi intstruksi memasangnya sudah ada di alat nya. Pasang di area bahu kanan dan dada kiri bawah
  30. Posisi pemulihan
  31. Posisikan menjadi posisi pemulihan
  32. Monitoring
  33. Cek nadi dan nafas setiap 5 menit
  34. Hentikan pertolongan jika: Korban kembali bernapas dan mempunyai nadi (return of effective, spontaneous circulation atau ROSC), Bantuan telah datang, Penolong kelelahan, Situasi yang mengancam (bencana, dll), Korban dinyatakan meninggal

Penanganan Korban Tenggelam

teknik pertolongan pertama
  1. Semua korban tenggelam harus dibawa ke rumah sakit untuk dievaluasi dan dimonitor, meski kondisinya sudah sadar.
  2. Pada kasus tenggelam, korban berada pada kondisi kurang oksigen sehingga lebih baik dilakukan pemberian napas bantuan dahulu.
  3. Saat akan memasangkan AED pada korban, penolong harus mengeringkan bagian dada korban terlebih dahulu.
  4. Biasanya korban akan muntah saat penolong memberikan bantuan kompresi dan ventilasi, miringkan kepala korban atau serap air yang dimuntahkan korban menggunakan kain.

Penanganan Korban Pingsan

  1. Baringkan korban di tempat teduh dan datar. Jangan mengerumuni korban.
  2. Tinggikan kaki korban 15-30 cm.
  3. Longgarkan pakaian terutama di daerah leher dan pinggang.
  4. Miringkan kepala jika korban muntah.
  5. Kompres kepala dengan air biasa.
  6. Beri bau-bauan yang merangsang.
  7. Setelah sadar, beri minum air garam 0,1% (jika penyebabnya panas).

Pada Pasien Pingsan Jangan!

  • Meninggikan kepala
  • Memberi makanan atau minuman sebelum korban benar-benar sadar
  • Menampar korban sebagai usaha membangunkan
  • Menyiram wajah korban

Pada Pasien Pingsan Cari Pertolongan Medis Apabila:

  • Terjadi pingsan berulang
  • Riwayat kelainan jantung
  • Tidak berespon saat duduk/berbaring
  • Hamil atau berusia >40 tahun
  • Tidak sadar dalam 4-5 menit
  • Muntah tanpa alasan yang jelas

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *